Selamat Datang – Welcome – PERPAMSI - Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia - Graha PERPAMSI, Jl. Dewi Sartika 287, Cawang, Jakarta Timur, Telp. (021) 809 3777, (021) 808 81876

Pelopor Pipa Plastik di Indonesia



Jajaran manajemen dan karyawan PT Pralon.

Nama Pralon sudah menjadi nama umum untuk produk pipa yang sudah akrab di masyarakat. Setiap membeli pipa di toko material tak jarang banyak orang menyebutnya beli pipa Pralon atau “Paralon”, meskipun yang dibeli merek lain. Dengan banyaknya pemain baru, Pralon tetap bertahan dan mencoba bangkit menjadi nomor satu seperti masa jayanya dahulu.

Menjadi nama generik di masyarakat, karena Pralon memang sudah ada sejak 1963. Sebelum besar dengan nama PT Pralon Corporation, pada awalnya perusahaan ini bernama PT Prakarsa Plastik. Perusahaan kecil yang memproduksi alat-alat plastik rumah tangga seperti ember, keranjang dan sebagainya. Lokasi dan pabriknya terletak di daerah Petamburan Tanah Abang, Jakarta. Pemiliknya bernama Budi Citra, seorang keturunan Tionghoa.  

Dalam suatu kunjungan ke Jepang bersama Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu, pemilik Prakarsa Plastik berkenalan dengan Sekisui, perusahaan plastik besar di Jepang yang memproduksi pipa dengan nama S-Lon. Melihat peluang belum adanya pipa plastik di Indonesia, kedua perusahaan itu akhirnya bekerja sama. “Nama Pralon pun diambilkan dari Pra (Prakarsa Plastik) dan Lon (Merek pipa S-Lon miliki Sekisui), jadilah nama Pralon,” kata Nurani, General Manager PT Pralon ketika ditemui Tim Majalah Air Minum di pabrik Pralon Cimanggis, Depok, baru-baru ini.

Prakarsa plastik pun mulai memproduksi pipa plastik atau biasa dikenal dengan PVC (polyvinyl chloride) dengan standar JIS (Japan Internasional Standar). Alat, teknologi dan bahan baku disuplai langsung dari Jepang. Seiring berkembangnya pasar, mereka pun secara resmi membentuk perusahaan joint venture dengan nama PT Pralon Corporation pada 1975 dengan Sekisui dan Marubeni (Perusahaan trading pemilik sebagian saham Sekisui).

Seiring kapasitas produksi bertambah, pabriknya pun ikut berpindah ke Cimanggis, Depok, Jawa Barat. “Di Tanah Abang sudah tidak cukup dan sudah mulai berubah menjadi kota besar,” kata Nuraeni.    


Kegiatan di unit produksi.

Pelopor pipa plastik

Menurut Nurani, kehadiran pipa PVC Pralon merupakan yang pertama di Indonesia. Boleh dibilang, sejak tahun 70-an, Pralon menguasai pasar retail pipa. Kehadiran pipa PVC ini juga sebagai alernatif pipa ledeng (besi) dan perlahan mulai menggeser pipa besi. Tahun 1982, dengan keluarnya Standar Industri Indonesia dan belakangan berubah nama Standar Nasional Indonesia (SNI), Pralon pun ikut memproduksi sesuai SNI dan mulai masuk besar-besaran ke proyek pemerintah, termasuk PDAM.

Banyaknya permintaan pipa di PDAM membuat Pralon kewalahan dan mulai meninggalkan pasar retail. Selain itu, kata Nurani, kapasitas produksi perusahaan asing juga dibatasi. Perusahaan Jepang sendiri tidak ingin di retail karena tidak ada standarnya.

“Tahun 80-an kita fokus ke PDAM dan mulai meninggalkan retail. Di pasar retail kemudian mulai ada nama-nama baru yang masuk. Meskipun standar yang dibuat bukan JIS yang menjaga kualitas namun standar pabrik masing-masing dengan kualitas lebih rendah dan harga murah,” kata Nurani.

Pada tahun 1994, Pralon mulai memproduksi pipa PE atau dikenal High Density Polyethylene Pipe (HDPE), yakni pipa termoplastik yang terbuat dari bahan yang dapat meleleh dan di bentuk ulang namun mempunyai karakteristik keras, fleksibel, dan tahan lama. Perusahaan semakin besar dengan bergabungnya perusahaan Jepang Aronkasei di tahun 1995. Salah satu inovasinya setelah bergabungnya Aronkasei ini adalah dengan membuat pipa terbesar di Indonesia berdiameter 640 mm.

Sukses sebagai pemain utama perpipaan Indonesia, tahun 1998 terjadi krisis ekonomi di Indonesia. Krisis ini membuat berbagai proyek pembangunan termasuk ke PDAM bisa dibilang berhenti total. Hal ini tentu saja berimbas kepada pasar Pralon. Pasar yang menjadi ladang pendapatan utama Pralon tiba-tiba hilang begitu saja. Di satu sisi, krisis tidak berpengaruh besar terhadap pasar retail. Daya beli masyarakat dan permintaan bisa dibilang masih stabil. Untuk menjaga pertumbuhan, maka Pralon kembali menggarap pasar retail.

“Krisis 98 sangat berpengaruh besar terhadap pasar Pralon. Untuk menjaga dapur tetap ngebul kita akhirnya kembali ke retail. Di retail posisi kita harus mulai merangkak lagi untuk merebut pasar,” imbuh Nurani.


Pabrik dan gudang PT Pralon.

Pelayanan PDAM

Pada tahun 2000, PT Pralon diakusisi secara penuh oleh Argo Manunggal Grup. Perusahaan multinasional yang juga bergerak di bidang properti seperti Alam Sutera dan kawasan industri MM 2000. Sejak itu, PT Pralon sepenuhnya menjadi perusahaan nasional. “Sebelum tahun 2000 itu jajaran direksi masih dari Jepang, sekarang sudah orang Indonesia semua,” terang Nurani.

Berbagai produk juga mulai diproduksi dengan berbagai standari ISO yang telah dimiliki oleh Pralon. Di antaranya produksi pipa gas, pipa telekomunikasi, pipa listrik dan juga mulai memproduksi sendiri fitting dan injection sejak 2006. Pralon juga menambah pabrik di Karawang mulai tahun 2012 untuk pasar retail dengan total kapasitas produksi mencapai 2000 ton per bulan. “Kalau ditanya soal pasar, saat ini kita 50-50. 50 pasar dan 50 retail,” tambah Kevin Kowinto, Marketing Manager PT Pralon.

Untuk perusahaan penyediaan air bersih seperti PDAM, Pralon menyediakan berbagai jenis pipa PVC maupun PE. Mulai dari pipa dengan tekanan 4 bar hingga 24 bar dan juga dari ukuran kecil 20 mm hingga 800 mm. Pralon juga menyediakan berbagai fitting semua kebutuhan PDAM.

Kelebihan dari Pralon, kata Kevin, pihaknya siap membuat berbagai fitting sesuai permintaan. “Terkadang di lapangan ada beberapa fitting yang tidak ada di pasar, kita bisa buatkan secara khusus. Namun tentu saja pipa yang dibeli juga dari pralon. Beberapa tahun belakangan ini kita tidak bisa lagi melayani permintaan fitting khusus jika pipanya bukan Pralon. Itu memang kebijakan kita,” kata Kevin.

Kevin menambahkan, pihaknya juga terbuka untuk semua perusahaan air perpipaan yang ingin melakukan inspeksi produk ke pabrik Pralon. Pihaknya juga siap memberi pelatihan dan pendampingan, baik untuk pemasangan pipa, alat maupun fitting. Berdasarkan pengamatan MAM ketika mengunjungi pabrik Pralon di Cimanggis, laboratorium yang dimiliki Pralon memang cukup lengkap. Terdapat berbagai alat uji, seperti kekuatan dan daya tahan.

“Untuk uji lab kita lakukan baik internal dengan laboratorium kami sendiri maupun eksternal oleh lembaga independen, baik terkait ISO maupun SNI. Setiap tahun kita terus dievaluasi. Untuk kualitas kita memang selalu jaga,” imbuh Kevin. 

Sejauh ini PT Pralon telah memiliki 15 distributor di 10 provinsi dengan kantor pusat di Synergy Building Alam Sutera Serpong, Tangerang. Beberapa proyek besar yang telah dikerjakan antara lain Synergi Building Alam Sutera, Kampus Binus Tangerang, Mal Alam Sutera, Garuda Wisnu Kencana Bali, WTP di Enrekang Sulsel, PDAM Jambi, Penyambungan Pipa HDPE 630 mm di Mall Karawaci Tangerang, dll. Danang Pidekso

 

Penghargaan PT Pralon di antaranya:

- TOP Brand dari Frontier dan Majalah Marketing

- Champion Indonesia Original Brand 2015-2019 dari Majalah Swa

- Idea Rumah Award 2015

- Rekor Bisnis Award 2015 dari Sindo

- Living Legend Company dari Majalah SWA 2019

 

Berbagai sertifikat yang dimiliki, di antaranya:

- ISO 9001:2015 Manajemen Mutu

- ISO 14001:2015 Manajemen Lingkungaan

- ISO 18001:2007 Manajemen Keamanan dan Kesehatan Pekerja

- Sertifikat lulus uji laboratorium serta sertifikat green label untuk pipa PVC dan sambungan PVC dan juga merupakan anggota luar biasa dari PERPAMSI