Selamat Datang – Welcome – PERPAMSI - Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia - Graha PERPAMSI, Jl. Dewi Sartika 287, Cawang, Jakarta Timur, Telp. (021) 809 3777, (021) 808 81876

Membumikan Istilah pada SPAM

Membumikan Istilah pada SPAM

Seperti kita tahu, selama dua tahun masa pandemi Covid-19, Pemerintah dan banyak kalangan berjibaku melakukan berbagai upaya menurunkan angka pandemi. Salah satu kendala dalam upayanya adalah adanya sejumlah istilah yang cenderung sulit dipahami oleh masyarakat.

Kesulitan ini sedikit banyak sempat memengaruhi upaya literasi atau penyebaran pengetahuan kepada masyarakat terkait Covid-19. Di awal pandemi, banyak orang yang kurang paham pada istilah social distancing. Apa maksudnya menjaga “jarak sosial”? Menjaga hubungan sosial? Lalu, muncul istilah yang dianggap lebih tepat, physical distancing atau jarak fisik. Namun, itu pun tak lantas membuat masyarakat langsung mengerti.

Tentu masih ada lagi istilah lain yang cukup bikin bingung, seperti asymptomatic, carrier, long covid, hand sanitizer, lockdown, happy hypoxia, dan herd imunity. Virus tentu tak menunggu masyarakat paham dulu. Kita jadi berpacu dengan waktu ketika berupaya memahami berbagai istilah tersebut.

Lambat laun, masyarakat mulai memahami berbagai istilah tersebut dengan adanya padanan dalam bahasa Indonesia-nya. Asymptomatic, misalnya, menjadi “orang tak bergejala” disingkat OTG. Memang OTG tak langsung membuat orang paham. Tetapi, setidaknya orang bisa mulai bertanya “apa maksudnya tak bergejala?”  

Pembelajaran yang dapat kita ambil dari pengalaman di atas, sebaiknya sedapat mungkin kita memudahkan istilah-istilah bagi publik agar pengetahuan dapat lebih mudah dipahami.

Memang, ada orang yang mempertanyakan, bahkan ada juga yang mencibir, pengindonesiaan sejumlah kata atau istilah asing di tempat-tempat umum. Contohnya adalah skyline menjadi kalayang sebagai akronim dari kereta layang. Hal yang sepertinya kurang disadari oleh orang-orang ini adalah bahwa pengindonesiaan istilah tersebut bukan hanya persoalan cinta bahasa sendiri.

Lebih dari itu, pengindonesiaan istilah merupakan salah cara agar istilah tersebut dekat dengan masyarakat. Salah satu cara mendekatkannya adalah dengan membuatnya mudah disebutkan atau malah mudah pula dituliskan. Kata kalayang, misalnya, jauh lebih mudah dilafalkan dibanding skyline oleh orang-orang yang tidak terbiasa dengan bahasa Inggris tulis. Bagaimana misalnya bagi orang-orang yang tidak memiliki kemampuan melafalkan tulisan skyline?

Di bidang hukum, bagaimana membuat rakyat kecil memahami istilah restorative justice jika sampai terkena kasus hukum? Jika tak paham, bagaimanana dia mengupayakan jenis peradilan tersebut?

Gambaran sederhana, di kompleks rumah saya, nama-nama klasternya menggunakan bahasa Inggris. Bagi penghuni umumnya tidak jadi masalah untuk melafalkannya. Masalah cukup sering muncul ketika pengojek menanyakan alamat dan kesulitan melafalkan nama klaster. Memang, biasanya pengojek akan menunjukkan tulisannya kepada satpam klaster.

Kebutuhan penyederhanaan istilah tidak melulu berasal dari kasus bahasa Inggris. Jika masih ada istilah bahasa Indonesia yang masih membingungkan, maka kita perlu mencari padanan yang lebih mudah dipahami publik.

Dikaitkan dengan dunia air minum, kita sebagai tukang ledeng perlu mengecek, barangkali ada sejumlah istilah SPAM yang dapat disederhanakan demi kepentingan pelanggan.

Istilah pada SPAM

Dikaitkan dengan dunia air minum, kita sebagai tukang ledeng perlu mengecek, barangkali ada sejumlah istilah SPAM yang dapat disederhanakan demi kepentingan pelanggan. Alasannya sederhana, untuk dapat melayani pelanggan dengan baik tentu kita perlu mendekatkan diri kepada pelanggan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan komunikasi atau bahasa yang mudah dimengerti. Termasuk penggunaan istilah yang kita pastikan tidak akan bermasalah dalam hal pemaknaan.

Perlu kita cek apakah, misalnya, kata-kata district meter area, valve, reservoir, TDA (tidak dapat air), dan fabrikasi termasuk deretan istilah yang kerap disampaikan kepada pelanggan? Jika iya, apakah kita sudah yakin pelanggan sudah memahaminya dengan baik. Mungkinkah pelanggan sudah memahami maksud gangguan air atau gangguan distribusi? Apakah sudah jelas bagi pelanggan perbedaan antara air mati, air tidak keluar, dan pemutusan aliran sementara? Para tukang ledeng tentu jauh lebih paham deretan istilah yang mungkin dapat disederhanakan lagi.

Intinya, para tukang ledeng yang berhubungan dengan pelanggan, baik langsung maupun tidak langsung, sebaiknya menggunakan istilah yang lebih mudah dipahami. Tugas ini tentu menjadi tanggung jawab tukang ledeng di semua lini, mulai dari petugas lapangan, manajemen, hingga pengelola medsos.

Karena, bagaimanapun, upaya pemecahan masalah yang baik umumnya diawali dengan komunikasi yang baik pula. Sementara, komunikasi yang baik wajib ditopang oleh penggunaan kata dan istilah yang sama-sama dimengerti. Hal itu bisa diawali dengan upaya membumikan berbagai istilah.

 

Penulis: Anwari Natari

Editor dan dosen bahasa Indonesia

Tulisan lengkap baca di Majalah Air Minum Edisi Nomor 321 Juni 2022

klik: http://www.majalahdigital.web.id (berlangganan)

 

Comments

Berita Lainnya: