Selamat Datang – Welcome – PERPAMSI - Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia - Graha PERPAMSI, Jl. Dewi Sartika 287, Cawang, Jakarta Timur, Telp. (021) 809 3777, (021) 808 81876
Banner

Masyarakat Membutuhkan Kita

Masyarakat Membutuhkan Kita

Pengalamannya bergelut dengan sektor air membuat Anang Muchlis, Direktur Air Minum, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR, melihat bahwa betapa masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah dalam hal penyediaan air. Karena itu, kebutuhan akan air harus benar-benar menjadi perhatian serius.

Sejak 13 Agustus 2021, Anang Muchlis mendapat kepercayaan memimpin Direktorat Air Minum, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR. Pria kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, 21 November 1965, ini memulai kariernya pada Direktorat Sumber Daya Air di Kementerian PUPR sejak tahun 1992. Masa pengabdian sekitar 29 tahun tersebut membuatnya memahami kondisi kebutuhan air di masyarakat.

Jauh sebelum bergelut dengan persoalan air di Kementerian PUPR, ia sudah akrab dengan persoalan air. Di tanah kelahirannya, sebuah desa di Tulungagung, Anang merasakan hampir setiap tahun air menjadi persoalan. Bukan soal kekurangan air. Justru di sana kerap terjadi banjir akibat limpahan air dari sungai kabupaten tetangganya. Aliran air sungai dari Kabupaten Trenggalek yang seharusnya langsung masuk ke aliran Sungai Brantas meluap. Jadi, malah masuk ke Tulungagung karena tingginya aliran air sungai Brantas waktu itu.

“Dari situ, saya sempat bertekad untuk bekerja mengatasi permasalahan yang ada, seperti masalah banjir di Tulungagung. Saya bertekad nantinya dapat bekerja mengatasi permasalahan tersebut. Mengabdi mengatasi banjir dan sebagainya,” ungkap Anang Ketika diwawancarai Majalah Air Minum secara daring, belum lama ini.

Setelah lulus dari Universitas Brawijaya pada tahun 1991, Anang Muchlis sempat bekerja sebagai konsultan yang menangani pekerjaan dari dari Departemen Pekerjaan Umum (DPU). Namun, dia berpandangan, jika ingin mendalami lebih jauh persoalan seputar air, kita harus masuk ke DPU (sekarang Kementerian PUPR).

Pada 1992, Anang diterima bekerja di Departemen PU Provinsi Nusa Tenggara Barat dan mengabdi selama 18 tahun. Pada 2010, ia dipindahtugaskan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, Kota Semarang. Kemudian, ia dipercaya sebagai Kepala Satker Pembangunan Waduk Jati Barang pada tahun 2013. Satu tahun kemudian, ia dipindah tugas menjadi Kepala Satker Pelaksana Pembangunan Jaringan Sumber Air (PJSA) sampai tahun 2016 pada BBWS Pemali-Juana. Tahun 2016, dia dipercaya sebagai Kepala Bidang PJSA di BBWS Pemali-Juana.

Satu tahun kemudian, pada tahun 2017, Anang dipercaya menjadi Kepala Balai Wilayah Sungai Kalimantan III di Kalimantan Timur selama tiga tahun. Sampai Juni 2020, ia dipindah tugas lagi menjadi Kepala BBWS Citarum. Itu pun ternyata hanya 14 bulan. Pada 13 Agustus 2021, Anang Muchlis mendapat tugas baru sebagai Direktur Air Minum di Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR.

Kebetulan, saya waktu itu bertugas di Direktorat SDA mengurusi kekurangan air yang ada di masyarakat. Kami benar-benar mengetahui kondisi masyarakat sebelum kita hadir itu seperti apa. Sangat kekurangan air. 

Berkunjung ke lapangan dan berdialog dengan masyarakat.

 

Kehadiran Pemerintah

Menurut Anang, berdasarkan pengalamannya terjun langsung ke lapangan, dirinya sangat merasakan bahwa masyarakat benar-benar membutuhkan kehadiran pemerintah dalam persoalan air.

“Kebetulan, saya waktu itu bertugas di Direktorat SDA mengurusi kekurangan air yang ada di masyarakat. Kami benar-benar mengetahui kondisi masyarakat sebelum kita hadir itu seperti apa. Sangat kekurangan air. Baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk bercocok tanam, buat mencukupi kebutuhan air di lahannya,” terang Anang.

Dengan berpindah-pindah tugas ke berbagai daerah, Anang juga dapat mengetahui persoalan berbeda di tiap daerah terkait masalah air. Seperti di Kaltim, untuk mengatasi kebutuhan air, masyarakat memanfaatkan air hujan. Dari atap rumah dipasang talang yang kemudian ditampung dan dimasukkan ke dalam reservoir. Itulah yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan air sehari-hari. Jadi, masyarakat di sana tidak memanfaatkan sumur gali karena kandungan logam air tanah yang cukup tinggi.

Menurut Anang, curah hujan di Kaltim kebetulan cukup tinggi, baik di Samarinda, Balikpapan, maupun daerah lainnya. Rata-rata hujan turun bisa sampai 300 hari dalam satu tahun. Berbeda dengan di Jawa Barat. Masyarakat di daerah dekat-dekat sungai yang sungainya tercemar masih membuat sumur gali.

“Sekarang, saya bekerja di Direktorat Air Minum. Saya kira tidak jauh berbeda dengan saat bekerja di Ditjen SDA. Sehingga, saya bertekad mengabdikan diri kepada negara untuk mencukupi kebutuhan air di masyarakat,” tegas Anang. DA

 

Baca ulasan lengkapnya di Majalah Air Minum Edisi 318 Maret 2022

Klik: http://www.majalahdigital.web.id

Comments

Berita Lainnya: