Kerja Produktif, Ada atau Tidak Ada Pandemi

Kerja Produktif, Ada atau Tidak Ada Pandemi

Bekerja dari rumah (WfH) menjadi tantangan sekaligus peluang bagi penyelenggara SPAM yang yang tetap harus melayani masyarakat. Efektivitas WfH adalah tantangan sekaligus peluang. Kerja produktif adalah tujuannya, ada atau tidak ada pandemi.

 

Bagi para penyelenggara SPAM yang tetap harus melayani kebutuhan dasar air bersih masyarakat, WfH merupakan pilihan yang harus dilaksanakan. Menurut Zulkifli Lubis, Ketua Departemen Infokom PP PERPAMSI yang memandu webinar “Merancang WfH yang Efektif bagi Perusahaan Air Minum” yang diselenggarakan Rabu, 13 Mei 2020 lalu, akibat pandemi ini penyelenggara SPAM harus menyiasati bagaimana untuk tetap bekerja tetapi tidak terkena Covid-19. Dasar hukum yang ada sudah jelas, seperti kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), Surat Edaran (SE) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 34 Tahun 2020, termasuk juga SE Menaker No.M/3/HK.04/III/2020 tentang Pelindungan Pekerja/Buruh dan Kelangsungan Usaha dalam rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19.

“WfH ini sesuatu yang baru dan bagaimana bekerja yang efektif dari rumah dan bagaimana mempertahankan efektivitas pekerjaan. Lalu apa tindakan kita kalau ada karyawan yang positif kena corona? Karena pelayanan air bersih kepada masyarakat tidak boleh berhenti," ungkap Zulkifli.

Audelta Elviezon, Konsultan dan Trainer Pengembangan SDM, mengatakan, ada sejumlah hal positif dengan adanya WfH pada penyelenggara SPAM. Di antaranya penurunan biaya operasional, serta output yang dihasilkan ketimbang kehadiran fisik. Namun yang harus disadari adalah tantangan melakukan perubahan perilaku atau budaya kerja. Selama ini banyak karyawan sudah terbiasa berkumpul, atau terbiasa mendapatkan pendelegasian tugas atau tuntutan pekerjaan. Perilaku seperti ini pastinya tidak mudah diubah.

“Kalau soal teknologi, itu persoalan gampang. Tetapi mengubah perilaku, itulah persoalan serius dalam WfH. Tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dengan WfH. Tidak semua karyawan memiliki fasilitas melakukan WfH, dan banyak yang tidak biasa dengan komputer dan internet. Banyak PDAM yang belum berbasis IT, data-data masih bersifat parsial. Juga ada gangguan koneksi dan ganggung domestik. Kalau kita tidak bisa me-manage, maka menjadi tidak produktif,” tutur Audelta.

WfH sangat tepat dilakukan untuk pekerjaan yang tidak memerlukan kehadiran fisik, seperti payroll, akutansi, perencanaan, kesekretariatan bahkan kasir (Internet banking, Auto debit dsbnya). Dalam melaksanakan WfH dibutuhkan perangkat pendukung, termasuk CCTV bagi pekerja di instalasi. Juga berbagai aplikasi pendukung seperti WA, Zoom maupun Skype. Banyak software yang dapat digunakan untuk memantau jadwal kerja, lokasi, bahkan biaya lembur karyawan dari rumah. Namun, agar WfH efektif, Audelta menyarankan sejumlah langkah. Di antaranya harus berbasis IT, menyosialisasikan mengenai hardware dan software yang dibutuhkan karyawan, sekaligus memberikan fasilitasnya. Perusahaan juga harus membuat aturan terkait WfH, serta optimalisasi penggunaan file digital. Tak cukup hanya itu, harus ditetapkan target dan sasaran dengan menyediakan format dan laporan melalui email setiap hari. Juga, ditetapkan jadwal meeting online, serta pemberian insentif bagi karyawan yang tetap bekerja di kantor/lapangan.

Bagi PDAM yang memiliki sistem terintegrasi berbasis website, dasar penetapan imbalan melalui kelengkapan timesheet dan ketuntasan pekerjaan tidak menjadi masalah. Sedangkan perusahaan yang tidak memiliki sistem terintegrasi, bisa menggunakan virtual assistant. Satu bagian di perusahaan yang fungsinya mengumpulkan dan mendistribusikan data ke departemen terkait.

Direktur PDAM Surya Sembada, Kota Surabaya, Mujiaman, mengatakan WfH adalah lifestyle. Di PDAM Kota Surabaya, sudah sejak awal tahun lalu, kebijakan WfH dilakukan terhadap 340 karyawan. Sampai akhirnya sekarang ini, ketika terjadi pandemi Covid-19, hanya sekitar 40% lagi karyawan yang bekerja di kantor dan 20% karyawan yang sistem shift sudah melakukan WfH. Kebijakan pelayanan fisik kepada pelanggan di PDAM Surabaya, juga dikurangi bertahap sampai akhirnya sekarang dari jam 08-11.00 WIB. 

“WfH adalah lifestyle di masa depan. Ada pandemi dan tidak, kita bekerjanya (tetap) harus seperti ini. Saya akan mencari dasar hukum dan dukungan. Saya lebih suka orang-orang PDAM berbahagia dengan banyak waktu bersama keluarga. Saya yakin, WfH inilah masa depan kita,” tandas Mujiaman.

Sebenarnya dari sisi pekerjaan, menurut pengalamannya semua pekerjaan bisa dilakukan tanpa memerlukan kehadiran fisik di kantor. Untuk itu dibutuhkan komitmen pemimpin penyelenggara SPAM. Pemimpin harus rajin melakukan interview kepada manajer soal tupoksi, sehingga tahu persis apa pekerjaannya, dan semua bisa dilakukan di manapun. Dengan perkembangan teknologi global yang sudah pada konsep artificial intellegent, ini harus menjadi momentum penyelenggara SPAM untuk bekerja di manapun. Dia juga memberikan semangat kepada PDAM yang memiliki keterbatasan teknologi agar bisa tetap melaksanakan WfH.

Sedangkan Dirut PDAM Tirta Wening, Kota Bandung, Sony Salimi, mengatakan, terkait dampak pandemi ini harus bisa dipilah antara pekerjaan fisik dan pekerjaan administratif yang bisa dikerjakan di rumah. WfH memang sudah dilakukan di PDAM tersebut dan ke depan arahnya akan menjadi kebijakan perusahaan. Namun pihaknya masih melakukan kajian mengenai remunerasi yang tepat ketika melaksanakan WfH ke depan agar pendapatan karyawan tidak berkurang.

Sementara, Direktur Umum Perumdam Tirta Mangutama, Kabupaten Badung, Ida Ayu Eka Dewi Wijaya, mengatakan, menyiasati turunnya pendapatan saat ini, pihaknya tidak menuntut karyawan untuk hadir ke kantor. Asalkan semua pekerjaan dapat dilakukan dengan baik. WfH menurutnya sangat efektif dari sisi penghematan biaya perusahaan. Peran pimpinan sangat penting untuk memberikan pemahaman mengenai tanggung jawab dan target sesuai waktu yang sudah ditentukan ketika melakukan WfH.

Erlan Hidayat, Dewan Pengawas PERPAMSI, menyoroti soal model WfH yang harus disesuaikan dengan kondisi realitisnya. Kemudian, melakukan evaluasi terhadap model tersebut dalam jangka panjang. Jika dengan WfH ternyata pencapaian produktivitasnya sama, maka ini menjadi cerminan untuk mengevaluasi kecukupan karyawan. Dengan demikian, dalam jangka panjang, BUMD penyelenggara SPAM tetap mampu beroperasi secara berkelanjutan. Teknologi juga sangat penting bagi penyelenggara SPAM. WfH membutuhkan teknologi dan tanpa WfH juga dibutuhkan pengimplementasian teknologi yang harus disiapkan untuk menyongsong revolusi industri 4.0.

“Sekarang di PDAM yang bekerja paling berat adalah direksi. Harus membagi WfH, menciptakan metode kerja baru, dan mengevaluasi metode itu dengan cepat. Juga harus menghadapi tekanan ekonomi untuk menjaga perusahaan dalam jangka menengah panjang. Jadi WfH ini menuntut kita untuk bijaksana,” tandas Erlan. Deni Arisandy

Ilustrasi: Command center (pusat komando) Perumdam Kota Malang.

Artikel ini sudah dimuat di Majalah Air Minum PERPAMSI No. 297 Juni 2020

Comments

Berita Lainnya: