Rapat Kerja Nasional PERPAMSI 2019

Rapat Kerja Nasional PERPAMSI 2019

Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Jakarta, 29-30 November 2019. Rakernas 2019 mengusung tema “Ketahanan Air untuk Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat”.

Rakernas PERPAMSI 2019 dibuka Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI, Mochamad Iriawan, yang diwakili Direktur Program Pengembangan Kajian Kedeputian Bidang Pengkajian Strategik, Lemhanas, Herdwi Witanto.

Hadir pula dalam pembukaan Rakernas PERPAMSI 2019 beberapa pejabat dari kementerian terkait, para mantan Ketua Umum PERPAMSI, ketua lembaga afiliasi PERPAMSI dan beberapa undangan lainnya. Tak ketinggalan para Pengurus Pusat PERPAMSI dan para Ketua dan Sekretaris dari 31 Pengurus Daerah PERPAMSI.

Dalam keynote speech, Herdwi Witanto mengatakan, air merupakan kebutuhan mendasar mahluk hidup. Namun, dewasa ini ketersediaan air minum yang aman tidak sebanding dengan tingkat kebutuhan manusia. Pertumbuhan jumlah penduduk yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas perekonomian masyarakat, memberikan pengaruh signifikan terhadap ketersediaan air minum yang aman.

Ditegaskan, air adalah bagian dari ketahanan negara selain makanan dan energi, sehingga air tidak hanya dilihat dari infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan pokok dan pertumbuhan ekonomi, tetapi air sudah harus menjadi kepentingan politik negara, yang akan tercermin dari kebijakan negara atas air maupun alokasi anggaran negara untuk menjamin ketersediaan air.

“Kami berharap PERPAMSI aktif memberikan masukan atau mengadakan focus group discussion (FGD) dengan mengundang Lemhanas agar dapat memberikan masukan kepada pemerintah dan semua kementerian terkait dalam menyelesaikan permasalahan air di masa depan,” katanya.

Sementara Ketua Umum PERPAMSI Benny Andrianto, dalam sambutannya mengatakan, ketersediaan air di masa depan semakin terbatas. Saat kemarau panjang tidak ada satu daerah pun yang tidak mengalami kekeringan. Celakanya ketika musim hujan tiba, kita kebanjiran. Di sinilah seharusnya kita mampu menjaga keberlanjutan dan ketahanan kita sehingga bisa bertahan di masa depan.

“Saya membaca buku John Beddington, seorang saintis Inggris, berjudul The Perfect Storm 2030. Dalam buku tersebut meramalkan bahwa penduduk dunia akan meningkat 30 persen, dari 6 miliar jadi 8 miliar di 2030. Di samping itu, di era revolusi 4.0 kita banyak melewati hal-hal baru karena revolusi yang pernah terjadi di masa lalu, yang merubah paradigma bagaimana kita harus menyediakan ketersediaan pangan, air dan energi,” kata sosok yang juga Presiden Direktur PT Adhya Tirta Batam.

Dilanjutkan Benny, pada 2030 diramalkan bahwa air akan meningkat kebutuhannya sebanyak 30 persen, pangan 50 persen, dan energi 50 persen. Sementara ketahanan yang kita miliki, seperti halnya SDA bukan makin bertambah tetapi justru makin berkurang. Hal ini menyikapi bahwa pertumbuhan ekonomi dan revolusi industri telah mengalahkan ketersediaan air dengan mengalihfungsikan hutan dan daerah tangkapan air menjadi daerah hunian. Hal ini menimbulkan gangguan terhadap ketahanan air kita di masa depan.

Ia pun mengajak semua pihak terkait untuk lebih peduli, lebih bijak, dan bersama mengatasi potensi kekurangan air di masa depan, dan kita bisa memperlakukan SDA secara arif dan bijaksana. Karena, lanjutnya, dengan bertumbuhnya ekonomi maka bertumbuh pula egosektoral di masing-masing lokasi, sehingga SDA yang di masa lalu tidak menjadi masalah, maka di masa depan berpotensi jadi masalah.

Rakernas, yang digelar selama dua hari, adalah kegiatan tahunan PERPAMSI yang bertujuan melakukan evaluasi kinerja pada tahun sebelumnya, membuat rencana kerja dan anggaran untuk tahun ke depan. Layaknya sebuah organisasi para prefesional yang menjunjung tinggi demokratisasi, Rakernas PERPAMSI juga membahas berbagai dinamika di internal asosiasi. AZ

Comments

Berita Lainnya: