Banjir Bandang, Pelayanan PDAM Jayapura di Sentani Terhenti

Banjir Bandang, Pelayanan PDAM Jayapura di Sentani Terhenti

Pasca banjir bandang yang melanda Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu, 16 Maret 2019 lalu, hingga kini pelayanan PDAM Jayapura kepada 3.723 pelanggan di wilayah Sentani dan sekitarnya di Kabupaten Jayapura berhenti total.

Akibatnya, sebanyak sekitar 18 ribu warga di Distrik Sentani dan sekitar yang selama ini bergantung kepada pelayanan PDAM Jayapura mengalami krisis air. Menurut Direktur PDAM Jayapura, Entis Sutisna, Kamis (21/3), berhenti totalnya pelayanan PDAM kepada pelanggan diakibatkan sumber air PDAM di Pos 7 Sentani yang berkapasitas 120 liter per detik mengalami kerusakan akibat longsoran pegunungan Cycloop.

“Saat ini saya katakan rusak total, tidak berfungsi sebagai dampak dari longsoran pegunungan Cycloop. Sehingga dengan demikian, praktis pelayanan PDAM Jayapura di wilayah Kabupaten Jayapura tidak bisa berjalan. Sementara di wilayah pelayanan Kota Jayapura normal,” terang Entis Sutisna kepada Majalah Air Minum PERPAMSI, Kamis (21/3).

Menurut Entis, beberapa pipa distribusi dan transmisi berdiameter 10 sentimeter patah serta bergeser saat banjir bandang di Sentani 16 Maret lalu. Selain rusaknya jaringan, hingga saat ini kondisi air sangat keruh sekali. Dengan kata lain, disamping rusaknya jaringan, untuk saat ini air dari sumber Pos 7 belum bisa digunakan sama sekali.

Menurut Entis, saat ini  untuk mengatasi krisis air di Kabupaten Jayapura, pihaknya melakukan droping air bersih ke posko-posko tempat para pengungsi. Air yang didistribusi ini bersumber dari beberapa titik yang masih normal, salah satunya di Distrik Waena, Kota Jayapura. Jarak pengambilan air menuju titik pengungsi di Sentani sekitar 30 menit.

“Saat ini kita droping menggunakan 2 mobil tangki, satu miliki PDAM, satu lagi bantuan Satker Tanggap Darurat Sulawesi Selatan. Rencananya akan ada bantuan dari pusat sebanyak 5 mobil tangki lagi,” ujar Entis.

Selain mobil tangki, yang sangat diperlukan adalah bantuan tandon-tandon air untuk penampungan, baik yang berukuran besar sekitar 1.100 liter maupun yang berukuran kecil. Disamping itu, lanjut Entis, pihaknya juga sangat membutuhkan bantuan operasional untuk bahan bakar minyak (BBM) untuk armada mobil tangki air. Hitungan Entis, dalam seharinya 1 armada mobil tangki bisa mencapai 5 rit atau menghabiskan sekitar 40 liter BBM. AZ

 

Comments

Berita Lainnya: