PDAM Kabupaten Buleleng, Sekuat Tenaga Mempertahankan Kinerja Terbaik

PDAM Kabupaten Buleleng, Sekuat Tenaga Mempertahankan Kinerja Terbaik

Dalam dua tahun berturut-turut di tahun 2015 dan 2016 (dilaporkan dalam penilaian tahun berikutnya, 2016 dan 2017), PDAM Buleleng selalu mendapatkan peringkat pertama PDAM berkinerja terbaik di Tanah Air berdasarkan penilaian BPPSPAM. Untuk mencapai dan mempertahankannya, tentu butuh konsistensi dan juga kerja keras.

Poin sebesar 4,39 adalah angka penilaian yang diberikan BPPSPAM kepada PDAM Kabupaten Buleleng. Dengan poin nilai tertinggi 5, angka ini merupakan penilaian tertinggi dari BPPSPAM yang melakukan audit kepada 378 PDAM di Indonesia tahun 2017. Peringkat kedua diduduki oleh PDAM Kota Bogor, kemudian diikuti PDAM Kabupaten Malinau, Kabupaten Batang, dan PDAM Kota Surabaya, yang masuk dalam lima besar.

Bukan hanya tahun 2017 saja PDAM Buleleng menduduki peringkat tertinggi kinerja, tahun sebelumnya PDAM di “Pulau Dewata” juga mentereng di posisi teratas dengan nilai 4,31. Moncernya kinerja PDAM Buleleng ini patut diapresisi dan dapat menjadi contoh bagi PDAM lainnya. Seperti apa sebenarnya tips dan resep yang dilakukan?

Mempertahankan

Jika dilihat dari empat aspek penilaian BPPSPAM yaitu keuangan, pelayanan, operasi dan SDM, bisa dibedah satu persatu langkah-langkah yang dilakukan oleh PDAM Buleleng. Dari aspek keuangan, penilaian PDAM bisa dibilang hampir sempurna. Semua aspek mendapatkan nilai lima, hanya rasio operasi saja yang mendapat nilai tiga.

Menurut Direktur Utama PDAM Kabupaten Buleleng I Made Lestariana, dari aspek keuangan hal yang sangat berperan di situ adalah tarif. Dimana PDAM berhasil melakukan penyesuaian tarif setiap tahunnya mulai dari 2015. Hal ini juga didukung dengan terbitnya peraturan bupati tahun 2014 tentang penyesuaian tarif. “Jadi setiap tahun kita terus menyesuaikan tarif rata-rata naik 10 persen,” katanya ketika diwawancarai Majalah Air Minum saat berkunjung ke Graha PERPAMSI, belum lama ini.

Menurut Lestariana, tarif ini sangat krusial. Dengan terus naiknya biaya operasional setiap tahun, tidak mungkin jika diimbangi hanya dengan pertumbuhan pelanggan. Di Buleleng, tambahnya, pertumuhan pelanggan hanya bisa menaikkan pendapatan sekitar tiga persen. Hal ini tentu masih belum menutup biaya operasional dan naiknya inflasi setiap tahun. “Oleh karenanya  untuk menjaga performa keuangan tumbuh, solusinya adalah dengan penyesuaian tarif,” imbuhnya.

Dari aspek operasi, kinerja Buleleng juga cukup moncer. Tingkat kehilangan air berada di angka 19 persen dan juga tekanan sambungan pelanggan mencapai 98 persen. Dari sisi operasi, ujar Lestariana, pihaknya selalu senantiasa menjaga kuantitas dan kontinuitas. Oleh karenanya, setiap tahun PDAM selalu menargetkan penambahan kapasitas produksi antara 30-40 liter per detik. Dengan penambahan ini, maka dapat menambah pelangggan sekitar 3.000 unit.

“Dari tahun ke tahun selalu saya tekankan kepaada jajaran bagaimana caranya agar selalu meningkat pertumbuhan walaupun hanya sedikit,” kata Lestariana.

Selain itu, untuk menjaga tingkat kehilangan air, PDAM Buleleng juga rutin mengganti meter air dan juga alat ukur setiap lima tahun sekali. Sementara untuk menjaga kontinuitas pelayanan, penambahan dan juga perawatan booster pump rutin dilakukan. Saat ini jumlah sambungan yang dimiliki PDAM Buleleng per 2017 sebanyak 46 ribu.

Moncernya kinerja keuangan, operasi dan pelayanan PDAM Buleleng juga didukung oleh komitmen seluruh jajaran PDAM. Jika ditanya resepnya, kata Lestariana, pada intinya ia selalu menekankan kepada direksi, kabag, serta staf untuk fokus pada indikator kinerja yang ada dari BPPSPAM maupun Kemendagri.

“Dari indikator tersebut, kita drive staf bagaimana bekerja sesuai dengan indikator yang ada. Penilaian di indikator ini juga sebagai rapor kita dalam menilai karyawan,” tambahnya.

Sematara itu, penilaian dari sisi pelayanan dan SDM juga cukup bagus. Kinerja yag mencolok adalah dari sisi kualitas air pelanggan mencapai 98 dan penyelesaian pengaduan yang 100 persen. Untuk urusan pengaduan sebenarnya PDAM Buleleng masih mengandalkan media tatap muka dengan datang ke kantor dan juga via telepon. PDAM Buleleng belum memiliki saluran pengaduan via online atau media sosial. Hanya saja setiap pengaduan pelanggan yang masuk secepat mungkin segera dituntaskan.

Tantangan PDAM

Dengan modal peringkat satu, Lestariana juga mendapat kepercayaan tinggi dari pemangku kepentingan seperti bupati, dewan pengawas dan juga DPRD. Hal ini membuat semua program dan ide PDAM yang ingin dikerjakan mendapat dukungan penuh. Setiap tahunnya, kata Lestariana, laba perusahaan yang disetor ke pemda dikembalikan lagi sebagai penyertaan modal bagi PDAM.

“Air minum sebagai kewajiban pemda sudah dipahami dan menjadi komitmen bupati maupun DPRD. Sehingga hal ini memudahkan kita karena setiap tahun laba yang disetor kembali lagi menjadi penyertaan modal,” katanya.

Selain itu, kinerja yang mumpuni juga membuat kucuran anggaran bantuan baik hibah dari lembaga donor maupaun APBN mudah didapatkan. Tahun 2015 lalu, SPAM Air Saneh yang mengambil dari mata air sebesar 125 liter per detik sudah bisa beroperasi tahun ini. Selain itu, PDAM juga mendapatkan dana hibah air minum tahun 2015 dan 2017 dengan total 2.500 SR.

Mesk berpredikat terbaik, PDAM Buleleng juga masih memiliki tantangan untuk diselesaikan. Hal ini terutama terkait dengan cakupan pelayanan dan dukungan investasi. Saat ini cakupan pelayanan PDAM Buleleng sudah termasuk tinggi, yakni di angka 84,8 persen. Menurut Lestariana, beberapa daerah memang belum bisa dilayani karena keadaan topografi Buleleng yang berbukit-bukit.

“Beleleng ini topografinya mulai dari perbukitan hingga pantai. Untuk daerah ketinggian belum terlayani karena akses yang susah. Sementara untuk membangun infrastruktur butuh investasi besar,” katanya.

Selain itu, investasi juga masih dibutuhkan PDAM. Dikatakan, Kabupaten Buleleng merupakan kabupaten terluas di Provinsi Bali yang membentang dari sepanjang utara Pulau Bali. Selain itu, daerah ini juga tidak sekaya kabupaten lain di Bali seperti Badung. Oleh karenanya masih dibutuhkan dukungan investasi untuk berkembang.

Dengan status sebagai PDAM sedang, prestasi PDAM Buleleng yang mendapat peringkat nomor satu patut dijadikan contoh bagi PDAM lain. Melihat pernyataan sang direktur, sebenarnya tidak ada yang menonjol dari program maupun kebijakan yang dilakukan PDAM Buleleng. Keinginan untuk terus tumbuh, meski sedikit dan konsisten dengan target mungkin adalah hal yang bisa menjadi contoh PDAM lain jika ingin mendapat kinerja yang moncer. DP

 

 

 

 

Comments

Berita Lainnya: