PDAM Kota Singkawang Terus Upayakan Pembenahan Menyeluruh

PDAM Kota Singkawang Terus Upayakan Pembenahan Menyeluruh

Bertahun-tahun PDAM Gunung Poteng Kota Singkawang, Kalimantan Barat, terus berkubang dalam kondisi kurang sehat. Namun, belakangan harapan untuk menjadi PDAM yang sehat mulai menyemburat. Kuncinya adalah tekad dan semangat untuk melakukan perbaikan.

Kantor PDAM Gunung Poteng Kota Singkawang tampak masih buka dan melayani pelanggan meski saat itu hari libur. Sejumlah karyawan menyambut Majalah Air Minum PERPAMSI dan Direktur Eksekutif PERPAMSI Ashari Mardiono yang datang berkunjung, dan langsung mengarahkan ke ruang direktur.

Meski tampak relatif sepi, cukup bisa dirasakan adanya sebuah spirit atau gairah yang melingkupi atmosfer kantor dengan bangunan sederhana itu. Spirit dimaksud tentu saja berupa keinginan untuk terlepas dari status “kurang sehat” yang selama ini masih menggayut di pundak PDAM. “Jujur, sampai tahun 2020 kita belum bisa mencapai target yang 100–0–100, karena sampai sekarang cakupan pelayanan kita masih di angka 56,62 persen (hasil audit tahun 2016, karena audit 2017 belum keluar),” ujar Direktur PDAM Kota Singkawang Kristina Kilin, di ruang kerjanya, 1 Maret 2018.

Kondisi diperparah dengan tingkat kehilangan air yang tinggi; mencapai 56 persen sebelum kemudian berhasil diturunkan menjadi 42,75 persen dalam setahun belakangan--setelah mengikuti Program Kemitraan PERPAMSI. Belum lagi budaya kerja yang dimiliki para karyawan masih sangat pasif, membuat PDAM Gunung Poteng seperti jalan di tempat.

Serius Berbenah

Kondisi tersebut mau tidak mau memaksa direktur dan seluruh awak PDAM Gunung Poteng untuk berbenah kalau tak mau tergilas zaman. Hal pertama yang menjadi fokus pembenahan adalah di sektor non teknis, khususnya bidang sumber daya manusia (SDM), dan menggenjot jumlah sambungan. “Yang non teknis, kan, tidak terlalu membutuhkan biaya besar, makanya kita fokus di situ dulu,” terang Kilin. Selain itu, direktur yang juga mantan dosen tersebut percaya, karyawan adalah aset PDAM yang mesti bekerja berdasarkan program kerja yang jelas dan terukur.

Di PDAM Gunung Poteng, lanjut Kilin, hal tersebut tidak terjadi sebelumnya. Dari evaluasi yang dilakukan, banyak target yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tidak tercapai. Misalnya, target penambahan sambungan, target penagihan, dan lain-lain banyak yang tidak berhasil. “Saya pikir, kenapa tidak tercapai? Padahal Singkawang ini memerlukan air bersih. Rupanya karena selama ini kita sistemnya menunggu, tidak jemput bola. Jadi saya pikir ini tidak benar strukturnya dan harus saya ubah,” tegasnya.

Atas pemikiran tersebut, pada tahun ini PDAM Gunung Poteng melakukan assessment dan rotasi karyawan secara besar-besaran. Melalui hasil assessment, setiap karyawan dinilai untuk kemudian ditempatkan di posisi yang lebih tepat. 

Kebijakan tersebut juga diikuti dengan program-program pelatihan, yang untuk sementara ini lebih banyak menggunakan jasa pihak-pihak di sekitar Singkawang. “Tahun ini saya lakukan rotasi agak besar. Setelah itu saya berikan mereka pelatihan meski hanya di dalam (sekitar Singkawang-Red) karena kalau ke luar saya pikir butuh biaya besar,” urai Kilin.

Pelatihan dimaksud berkaitan dengan peningkatan kompetensi para karyawan, di antaranya service of excellent, keuangan, dan beberapa hal lainnya yang dibutuhkan terutama untuk perbaikan pelayanan. Hal ini dirasakan sangat urgen karena ada juga beberapa perubahan struktur yang dilakukan oleh sang direktur, dan itu butuh pemahaman lebih dalam lagi.

Untuk transfer knowledge atas dibangunnya struktur yang baru tersebut, pihak PDAM menjalin kontrak kerja sama dengan salah satu konsultan lokal. “Grup konsultan itu saya kontrak enam bulan untuk mendampingi bagaimana menjalankan struktur organisasi, bagaimana menjalankan job desk yang sudah saya susun tadi sehingga mereka tidak menyimpang,” imbuhnya.

Perubahan Iklim

Sebuah perubahan, terlebih yang menyangkut sebuah kebiasaan atau budaya kerja memang tidak mungkin akan berubah seperti membalik telapak tangan. Dalam pandangan Kristina Kilin, budaya kerja pasif yang tertanam dari dulu membuat perubahan iklim kerja baru sesuai yang diharapkan mesti disikapi dengan sabar.

Belum lagi banyak kebutuhan akan karyawan baru yang lebih fresh tidak dapat diwujudkan mengingat efisiensi. Walhasil, Kilin lebih mengedepankan skala prioritas dengan mengoptimalkan 61 karyawan tetap yang dimilikinya.

Meski demikian, setidaknya gejala atau semangat untuk menjadi lebih baik mulai terlihat di diri para karyawan seiring proses yang terus-menerus. “Inisiatifnya sudah mulai tumbuh. Kalau dulu mereka menunggu perintah, sekarang sudah tahu sendiri apa yang harus dilakukan. Kekompakan antarkaryawan terlihat. Cara menghadapi atau menjawab pertanyaan orang juga sudah lebih baik. Artinya, service of excellent-nya sudah mulai sedikit lebih baik,” Kilin menunjukkan beberapa contoh perubahan pada karyawannya.

Untuk mendukung upaya-upaya tersebut, di PDAM Gunung Poteng juga menerapkan pemberian reward untuk keberhasilan yang dicapai, dan punishment yang tegas atas sebuah pelanggaran. Hal ini, menurut Kilin, tidak lain sebagai bentuk dukungan dan motivasi bagi karyawan itu sendiri. “Saya yakin, PDAM akan menjadi sehat apabila ada sinergisitas antara manajemen dan karyawan (internal), selain juga sinegisitas antara PDAM dengan pemilik (kepala daerah) dan hubungan yang baik dengan masyarakat,” pungkasnya. Rois Said/Baca berita selengkapnya di Majalah Air Minum Nomor 271 April 2018

 

Comments

Berita Lainnya: