Sumur Resapan, Solusi Ideal di Wilayah Minim Air Baku

Sumur Resapan, Solusi Ideal di Wilayah Minim Air Baku

Air merupakan kebutuhan hidup yang tidak bisa dipisahkan dalam keseharian manusia. Tanpanya, akan menimbulkan berbagai masalah penting. Misalnya krisis air yang kerap terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Untuk mengantisipasi persoalan krisis air bukan hanya dibebankan kepada pemerintah saja. Perlu adanya 'campur-tangan' dari berbagai pihak untuk bersama-sama mencari solusi terbaik. Terlebih, permasalahan utama mengapa krisis air bisa terjadi umumnya karena masih banyak yang memandang belum perlunya sebuah sumur resapan air yang mampu menampung air hujan. Alih-alih akhirnya membiarkan air hanyut begitu saja.

Berbekal pengalaman pahit tersebut, membuat warga Desa Patemon, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mulai bangkit membangun sumur resapan. Beruntung warga dibantu program dari Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan untuk Semua (IUWASH PLUS).

Mata Air Senjoyo

Sebagaimana diketahui, sejak zaman Belanda mata air Senjoyo menjadi sumber utama PDAM Kota Salatiga. Karena kualitasnya yang masih sangat baik, di sini air langsung menjalani pengolahan cukup singkat dan langsung disalurkan ke konsumen.

Selain PDAM Salatiga yang memanfaatkan mata air Senjoyo sebagai air baku sebesar 145 liter per detik (l/d), ada juga pihak lain yang melakukna hal yang sama. Yakni PDAM Kabupaten Semarang (30 l/d), PT Damatex dan Timatex (53 l/d), Desa Karanggondang Kecamatan Pabelan (2.94 l/d), Yonif 411 Kota Salatiga (11.80 l/d) dan sisanya digunakan untuk keperluan irigasi.

Warga Desa Patemon, Kecamatan Tengaran, hanya mengandalkan mata air Senjoyo untuk kebutuhan sehari-hari. Seiring berjalannya waktu, debit mata air Senjoyo mengalami penurunan, dan menimbulkan krisis air bersih dalam beberapa waktu. Pada tahun 2000 tercatat ketinggian air pada penampungan PDAM sekitar 140 cm. Sementara pada tahun 2006, menunjukkan ketinggian air menjadi 90 cm. Sementara sesuai hasil pemantauan Dinas PU Kabupaten Semarang yang mencatat pengukuran di tahun 1995 mencapai 1.115 liter per detik, namun pada tahun 2008 menjadi 838 liter per detik.

"Saat itu, kita harus berdebat dan berkelahi dulu dengan warga lain jika ingin mendapatkan pasokan air bersih dari sebuah mata air. Bahkan sampai meminta bantuan ke PDAM untuk mendatangkan tangki air sebanyak 7-8 truk dalam satu minggu. Itupun masih kurang. Namun, setelah adanya sumur resapan, warga tidak lagi mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air," jelas Joko Waluyo, tokoh masyarakat Patemon saat ditemui Majalah Air Minum PERPAMSI di rumahnya, Senin (19/3).

Direktur PDAM Kota Salatiga Samino menyambut baik adanya sumur resapan yang dibuat oleh warga. Menurutnya, adanya sumur resapan ini akan meningkatkan ketahanan stok air tanah yang selama ini mengalami penurunan jumlahnya. "Kebutuhan air terus meningkat dan kita harus peduli dengan hal ini, salah satunya adalah menjaga ketersediaan air dengan membuat sumur resapan," jelasnya.

Sumur Resapan

Asep Mulyana, Senior Raw Water Specialist USAID IUWASH PLUS mengatakan, pembangunan sumur resapan menjadi salah satu metode buatan termudah untuk meningkatkan sumber air tanah.  Dimana sumur resapan mampu menampung air hujan ke dalam beberapa sumur kecil agar air dapat meresap ke lapisan akuifer atau lapisan tanah yang dapat menyimpan air.

Air yang terkumpul di lapisan ini dapat digunakan selama musim kemarau untuk mengisi sumur dangkal atau meningkatkan aliran mata air. "Untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, sumur resapan memberikan sebuah solusi yang sederhana, tepat, dan mudah untuk diterapkan," jelasnya.

Dikatakan,  proses pembuatan sumur resapan yang didukung pihaknya terbilang sangat sederhana, namun memiliki manfaat dan keunggulan yang sudah dirasakan maksimal oleh masyarakat setempat. Dengan membuat pola bangunan 2x2 meter persegi dengan kedalaman 2 meter di bawah tanah, sumur resapan dipandang sangat maksimal sebagai 'tabungan' air di rumah warga. "Untuk dasarnya diletakkan kerikil dengan ketebalan 30 cm dan di atasnya kita letakkan ijuk dengan ketebalan 30 cm," jelas Asep.

Dengan spesifikasi ini akan mengurangi genangan air di wilayah permukiman,  mengurangi limpasan air hujan (runoff) sehingga menjaga infrastruktur desa tidak rusak tergerus oleh limpasan air. Dan yang terpenting adalah menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah akibat kelembaban tanah terjaga dengan baik, serta mengembalikan debit mata air di wilayah tangkapan air (cathcment area).

"Untuk proses perawatannya pun terbilang sangat mudah. Tinggal mengangkat ijuk dalam kurun waktu satu tahun sekali, lalu dibersihkan sampah hingga gumpalan lumpur yang terbawa air di atas permukaan ijuk. Setelah itu, kembali dilihat kondisi ijuk tersebut bisa dipakai lagi atau diganti. Jika dinominalkan, sekitar Rp 50 ribu per tahun biaya perawatannya," tutupnya. Iman Suryanto

Comments

Berita Lainnya: