Mantan Dirut Pertamina Berbagi di PDAM Surabaya

Mantan Dirut Pertamina Berbagi di PDAM Surabaya

Usai tak lagi menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto kini aktif memberikan sharing kepemimpinan perusahaan hebat ke depan. “Pengalaman yang kita miliki wajib kita teruskan untuk masyarakat agar bermanfaat," katanya di PDAM Surya Sembada Kota Surabaya, Senin (30/10/2017). Kegiatan sharing inspiration tersebut dihadiri Dewan Pengawas, Direksi, Manajer Senior, dan para Manajer di lingkungan PDAM Surya Sembada Kota Surabaya.

Dwi Soetjipto, Direktur Utama Pertamina masa bakti 28 November 2014-3 Februari 2017 membagikan ilmu dan pengalamannya pada acara Sharing Inspiration bertema “Building Strategic Transformation, The Challenge of The Company Tranformation in Industrial Revolution 4.0”. Dalam acara yang berdurasi 2 jam tersebut, pria yang meraih gelar Doktoral dari Universitas Indonesia, mengawali presentasinya dengan perubahan era Revolusi Industri 4.0 dari tahun 2000 sampai dengan 2017. Dimana industri beralih menuju era internet--segalanya berbasis internet (internet of things).

 

Kebangkrutan para Raksasa Teknologi

Revolusi Industri 4.0 diawali di tahun 2000 dengan adanya Google dan Yahoo sebagai mesin pencari di internet. Internet baru digunakan untuk searching, kemudian tahun 2004 internet digunakan untuk transaksi bisnis melalui amazon dan ebay. Kemudian di tahun 2008 internet digunakan untuk jejaring sosial seperti melalui facebook, twitter dan instagram. Tahun 2011 dengan munculnya airBNB, Uber, dan sebagainya, internet berperan sebagai sharing economy. Tahun 2014 era digitalisasi, teknologi yang dibutuhkan ke depan antara lain adalah internet of things, autonomous robot, artificial intelligence, augmented reality, 3D printing, dan big data.

Revolusi Industri 4.0 adalah era dimana banyak penguasa bisnis dunia terancam punah. Sebagai contoh, Yahoo yang go public pada 1998 dengan valuasi saham Yahoo tertinggi pada tahun 2000 mencapai US$ 188 miliar. Saat dijual tahun 2016 ke Verizon, nilainya hanya US$ 4,8 miliar atau anjlok 2.358 persen. Harga kesepakatan ini jauh di bawah US$ 44,6 miliar yang Microsoft tawarkan kepada Yahoo pada tahun 2008 atau nilai Yahoo sebesar US$ 125 miliar saat Yahoo mengalami puncak bisnis. Begitulah, Yahoo tak pernah mampu bangkit seperti zaman keemasannya dahulu walau sudah bergonta-ganti CEO. Kapitalisasi pasar mereka makin anjlok, PHK terpaksa dilakukan dan operasional kantor di berbagai negara termasuk Indonesia ditutup.

Hal yang sama juga dialami Kodak, merk yang terkenal dalam bidang fotografi selama lebih dari 100 tahun. Pada tahun 2012 lalu, Kodak tidak lagi memproduksi kamera. Ini sungguh mengejutkan mengingat Kodak adalah pembuat kamera digital yang pertama kali. Begitu juga Nokia dan Blackberry yang tidak mampu bersaing dengan Android yang dikembangkan oleh Google. Terlalu percaya diri sebagai penguasa pasar, Nokia, begitupun Blackberry enggan mengadopsi sistem Android pada awalnya–hingga meskipun Nokia kemudian sudah mencoba memodifikasi produknya, tetap saja Nokia harus merelakan perusahaannya tumbang. Akhirnya, Nokia diakuisisi oleh Microsoft pada April 2014. Raksasa bisnis dunia seperti Yahoo, Kodak, Nokia, dan Blackberry harus tumbang setelah berjuang dengan perubahan yang mengganggu di era Revolusi Industri 4.0.

 

Tantangan PDAM

Perubahan sedang terjadi besar-besaran saat ini di dunia bisnis era Revolusi Industri 4.0. karenanya, PDAM harus mengetahui perubahan-perubahan yang ada dan beradaptasi dengan perubahan tersebut jika tidak ingin mengalami kejatuhan seperti raksasa-raksasa bisnis dunia yang tidak mampu mengakomodasi perubahan.

Dwi Soetjipto memaparkan mengenai tantangan dan peluang PDAM Surya Sembada dalam menyikapi era Revolusi Industri 4.0. Tantangan PDAM Surya Sembada terkait era 4.0 antara lain yaitu pelanggan 85 persen adalah pelanggan bersubsidi; pertumbuhan pelanggan baru didominasi oleh pelanggan MBR; pengelolaan air mandiri oleh perusahaan/industri mengakibatkan hilangnya potensi pemasukan dari pelanggan dengan margin besar; perilaku konsumen rumah tangga yang boros air; dan biaya produksi air untuk MBR yang jauh di atas harga jual.

Namun, PDAM Surabaya juga mempunyai peluang yang besar antara lain sebagai satu-satunya penyedia air minum yang mendapatkan hak pemanfaatan air sungai di Surabaya; basis potensi pelanggan non subsidi yang masih besar, khususnya pelanggan industri; serta diversifikasi produk air minum atau air berstandar khusus sesuai kebutuhan pelanggan.

“Di era Revolusi Industri 4.0 big data maka perilaku pelanggan PDAM Surabaya adalah peluang untuk menciptakan inovasi untuk operational excellence atau inovasi produk baru terkait bisnis inti PDAM maupun non bisnis inti,” tutur Dwi.

Pria yang sukses membawa PT Semen Indonesia Tbk labanya melonjak 11 kali lipat dalam waktu 8-9 tahun, dari sebelumnya Rp 500 miliar menjadi Rp 5,5 triliun, juga memaparkan pentingnya seorang pemimpin memiliki visi. “Penting untuk mengetahui bedanya seorang manajer dan seorang leader. Seorang manajer melakukan tugas-tugasnya sesuai ketentuan. Sedangkan seorang leader, selain melakukan tugas-tugasnya, ia harus mempunyai visi. Seorang leader harus berani merumuskan visi dan mempunyai mimpi serta menularkan visi tersebut ke anak buahnya,” kata pria berusia 62 tahun ini.

Dalam assesment di BUMN dan BUMD yang pernah dipimpinnya, yang paling rendah skornya bagi para manajer adalah soft skill dalam hal visionary leadership atau kepemimpinan yang bervisi masa depan. Saya ia bicara strategi di Pertamina, ia selalu bicara 15 tahun ke depan. “Saya pernah ditanya oleh wartawan, kenapa kok bicara mengenai 15 tahun ke depan, apakah bapak yakin akan memimpin Pertamina sampai 15 tahun ke depan? Jawaban saya, karena saya harus menyiapkan sesuatu untuk pondasi jangka panjang, mudah-mudahan pondasi tersebut bisa berlanjut. That’s a leader!”

“Saya harap rekan-rekan manajemen di PDAM bisa menyiapkan visi kepemimpinan dalam PDAM untuk jangka panjang, bukan hanya untuk saat ini. Inilah pentingnya mindset dan visi seorang leader. Siapkah Direksi PDAM menjadi visionary leader dan membawa PDAM bertransformasi pada Revolusi Industri 4.0?” ujar pria yang mengawali karirnya di PT Semen Padang ini.

 

Masalah dan Peluang

Diskusi menarik dalam sesi tanya jawab diawali dari pertanyaan Lulus Pujianto, Manajer Kelola Aset Non Properti mengenai cara mengubah masalah menjadi peluang. Sementara Eddy Rusianto, Sekretaris Dewas PDAM Surya Sembada menanggapi dengan wacana era otonomi daerah dimana Surabaya merupakan kota ke-15 dari kabupaten dan kota yang dialiri oleh Sungai Brantas. Hal ini menjadi masalah ketika kabupaten dan kota sudah terpenuhi kebutuhan airnya, sering tidak peduli. Umbulan pun sama seperti itu. Dengan kondisi semacam ini kemudian muncul wacana regionalisasi. “Jika Surabaya memulai membuat holding mulai Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, apakah mungkin?”ujar Eddy Rusianto.

“Ini menarik. Ketika ada masalah maka muncul peluang. Ini sama seperti ketika saya ditunjuk jadi Dirut Pertamina. Terus terang, itu perusahaan besar. Bagaimana menjadikan masalah menjadi peluang. Intinya harus open mindset. Kita sebagai leader harus mampu dan berani menciptakan peluang dan tidak lupa menyiapkan successor,” ujar Dwi Soetjipto.

Kenapa PDAM Surabaya berpikir hanya besar di Surabaya, lanjutnya, harusnya berpikir untuk bisa berinvestisasi di Jakarta atau dimana saja. Ia mencontohkan strategic holding Semen Indonesia waktu itu dibentuk sebagai respon BUMN persemenan di bawah Semen Gresik Grup terhadap perkembangan dunia bisnis, khususnya kompetisi di industri semen yang semakin ketat. Dengan terbentuknya strategic holding, PT Semen Gresik (Persero) Tbk, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa, bersinergi menjadi sebuah holding bernama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Ketiganya akan menjadi operating company berada di bawah payung PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

”Termasuk Semen Gresik akan menjadi operating company yang setara dengan Semen Tonasa dan Semen Padang. Demikian pula ke depannya setiap ada operating company akan berada di tingkat setara dengan operating company yang telah ada,” jelasnya.

Lebih lanjut mengenai topik regionalisasi yang diangkat oleh Eddy Rusianto, Dwi menjelaskan biasanya yang paling besar itu paling resisten jika mau menggabungkan diri. Saya berpikir tidak digabung-gabung begitu karena air baku digunakan untuk menyuplai 15 kabupaten/kota. Saya berpikir untuk mendirikan dan mengembangkan anak perusahaan yang membantu suplai air minum di 15 kabupaten kota itu. Bekerja sama dengan Pemda setempat dan mereka dibagi share 10 persen. Karena mereka ikut memegang saham, maka kan ikut support PDAM.

Di akhir acara, Direktur Utama PDAM Surya Sembada Mujiaman berharap, sharing inspiration bersama Dwi Soetjipto dapat memberikan inspirasi, meningkatkan motivasi, dan menumbuhkembangkan inovasi bagi jajaran direksi, manajemen ataupun pegawai di lingkungan PDAM Surya Sembada dalam menghadapi perubahan, menangkap peluang usaha, dan mewujudkan PDAM Surya Sembada berkelas dunia. (Widya Rizky/ Staf Humas PDAM Surya Sembada)

Comments

Berita Lainnya: