Perwakilan Kedutaan Australia Sambangi Graha PERPAMSI

Perwakilan Kedutaan Australia Sambangi Graha PERPAMSI

Perwakilan dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Pemerintah Australia berkunjung ke Graha PERPAMSI, Rabu (4/10). Tujuan kedatangan mereka ingin meminta pendapat soal pelaksanaan program hibah air minum dan sanitasi di Indonesia.

Para tamu diterima oleh Direktur Eksekutif PERPAMSI Ashari Mardiono dan Tenaga Ahli PERPAMSI Agus Sunara. Dalam kesempatan tersebut, Juliet Watls, perwakilan pemerintah Australia yang membidangi hibah air minum di Indonesai menanyakan soal efektivitas serta kendala dalam pelaksanaan hibah air minum dan manfaatnya bagi PDAM.

Menanggapi hal tersebut, Ashari Mardiono menjelaskan, secara umum program ini berhasil karena dapat merangsang pemda untuk memberikan penyertaan modal bagi PDAM. Sehingga program ini dapat meningkatkan cakupan layanan PDAM kepada masyarakat.

Hanya saja, lanjut Ashari, di beberapa daerah ada beberapa kendala. Di antaranya pergantian pimpinan daerah yang menyebabkan program menjadi tidak berlanjut. Oleh karena itu, katanya, perlu sosialisasi kepada kepala daerah agar program ini dapat dipahami. Seperti kita ketahui bersama, konsep dari program ini adalah output based, dimana biaya akan diganti seteleh selesai dibangun oleh PDAM dengan dana dari penyertaan modal pemda.

“Pemahaman kepada pemda ini akan lebih mengena apabila dilakukan oleh pusat atau lembaga pemberi hibah. Karena sulit jika dilakukan oleh PDAM,” kata Ashari.

Sementara itu, Agus Sunara juga melihat program hibah cukup efektif dan berhasil. Ke depan, kata Agus, alangkah baiknya jika program ini tidak hanya mengganti sambungan rumah, melainkan juga untuk mengganti infrastruktur lain seperti pembangunan IPA atau infrastuktur lainnya.

Hibah Air Limbah

Dalam kesempatan tersebut, Marcus Howard dari bagian hibah air limbah pemerintah Australia juga meminta pendapat soal pelaksaan program hibah air limbah yang selama ini berjalan. Menanggapi hal tersebut, menurut Ashari, hibah air limbah memang kurang berhasil karena tidak ada keberlanjutannya.

Menurut Ashari, hal ini disebabkan karena sasaran hibah adalah masyarakat berpengahsilan rendah (MBR), sehingga membutuhkan usaha keras untuk memberikan pemahaman dan juga investasi besar karena menyasar tempat-tempat kumuh. Karenanya, alangkah baiknya bila program hibah ini diterapkan terlebih dahulu buat kalangan menengah ke atas yang tinggal di permukiman. Dari situ nanti masyarakat bisa melihat dan mencontohnya. “Menurut saya itu akan lebih efektif karena masyarakat Indonesia ini lebih mudah meniru dengan  melihat daripada mendengar,” lanjut Ashari.

Lebih lanjut menurut Ashari, selaku asosiasi pihak PERPAMSI akan mendorong anggotanya yang telah sehat dan memiliki cakupan di atas rata-rata untuk terlibat dalam pengelolaan air limbah. “Kita setiap dua tahun juga memiliki acara Indonesia Water and Wastewater Expo and Forum (IWWEF) yang selalu melibatkan sektor sanitasi dan limbah,” kata Ashari saat menjawab soal kontribusi PERPAMSI untuk air limbah. (Dvt)

Comments

Berita Lainnya: