PDAM Surabaya Punya "Rumah Air"

PDAM Surabaya Punya

Meski belum dibuka secara resmi, PDAM Surya Sembada selaku penggagas telah mulai memperkenalkan keberadaan Rumah Air Surabaya. Di sana pengunjung bisa mengetahui sejarah teknologi air yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan warga Surabaya sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda hingga teknologi yang akan digunakan di masa depan.

Rumah Air Surabaya (RAS) berada di salah satu gedung cagar budaya dan diapit oleh gedung-gedung pencakar langit yang berada di kawasan jantung Kota Surabaya, tepatnya di jalan Basuki Rahmat 119-121. Menurut Adi Setiawan, Ketua Komunitas Roodeburg Surabaya, Gedung Basuki Rahmat dulunya merupakan markas Tentara Keamanan Pelajar (TKR), dimana MRAS saat ini menjadi salah satu tempat persembunyian utama. “Dulu ada juga gedung SD, itu tempat dapur umum,” imbuhnya.

Dari luar, gedung berlantai dua ini masih nampak nuansa Belandanya, ditambah lagi keberadaan cagar budaya ini ditandai dengan tetenger berupa tugu yang berkeramik hitam yang berada tepat di depan Rumah Air Surabaya ini.

Ketika masuk, pengunjung dibawa ke suasana dengan nuansa biru dengan tulisan “AIR” tepat di depan pintu masuk. Hal ini mengesankan yang ada di dalam rumah air ini adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan air. Tempat duduk yang terbuat dari pipa bekas tertata rapi di sebelah pintu masuk lorong museum, juga terdapat papan yang berisi konten dari rumah air.

Pintu lorong museum dibuat melingkar menyerupai pipa air yang identik dengan PDAM. Di lorong pertama pengunjung bisa melihat tentang air dan dunia kita. Termasuk karakteristik, krisis air, langkah penghematan dan sebagainya. Di pojok lorong ini terdapat beberapa jenis dan ukuran pipa yang dipakai PDAM, serta alat patri yang digunakan di zaman kolonial.

Lorong selanjutnya pengunjung seakan dibawa ke masa kolonial Belanda. Dalam lorong ini terdapat banyak barang peninggalan Belanda yang digunakan dalam mencukupi kebutuhan air di kota Surabaya kala itu. Salah satunya adalah pompa air legendaris yang dipasang tahun 1932 di Rumah Pompa Umbulan. Masih di ruang yang sama, pengunjung bisa mempelajari sejarah perkembangan penyediaan air untuk kebutuhan warga Surabaya dari tahun ke tahun sebelum PDAM disahkan menjadi perusahaan daerah tahun 1976.

Lorong selanjutnya pengunjung masih bisa menikmati nuansa kolonial Belanda. Lorong ini berisi Weirstan yaitu alat untuk start pompa, ada juga berkas-berkas peninggalan Belanda. Berkas dengan judul “Plan Der Voornaamste Leidingenvan het Standnet” atau perencanaan jaringan pipa air perkotaan Surabaya. Berkas ini teksnya masih asli menggunakan bahasa Belanda dan pihak PDAM Surya Sembada mendapatkanya saat ada seorang profesor dari Belanda yang berkunjung ke kantor PDAM untuk melakukan penelitian tentang infrastruktur yang pernah dibangun Belanda di kota Surabaya. Sebelum ke luar lorong ini, pengunjung bisa melihat keran air kuno serta meter air kuno yang masih terbuat dari bahan kuningan.

Setelah melewati lorong ketiga, pengunjung disuguhkan ke lorong transisi dari masa lalu ke masa kini. Dokumentasi-dokumentasi zaman dulu tersusun rapi berurutan hingga dokumentasi saat ini. Pengunjung bisa melihat bagaimana potret PDAM serta cara dokumentasi pekerjaan-pekerjaan zaman dulu. Potret transisi pintu air jagir zaman dulu ke masa kini juga terpampang di sudut lorong ini sehingga pengunjung bisa melihat bagaimana kondisi pintu air jagir zaman dulu.

Di lorong ini pula pengunjung diajak mempelajari proses pengolahan air yang digunakan oleh PDAM saat ini, mulai dari air baku yang diambil dari sungai Surabaya hingga menjadi air layak konsumsi. Terlihat dua maket Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Ngagel dan IPAM Karangpilang yang bertujuan untuk menjadi peraga saat menjelaskan proses pengolahan air kepada pengunjung.

Dosen Hukum Lingkungan Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan Surabaya, Sari Mandiana, yang mendampingi mahasiswanya saat berkunjung ke Rumah Air Surabaya (17/1) menuturkan, pihaknya sangat mengapresiasi adanya RAS karena masyarakat bisa mempelajari cara-cara pengolahan air dari zaman dulu sampai sekarang.

Selain maket instalasi, di lorong PDAM masa kini bisa dilihat peralatan yang digunakan PDAM Surya Sembada, serta prestasi-prestasi yang diraih dalam memberikan pelayanan air minum untuk warga Surabaya. Di lorong terakhir pengunjung disuguhkan proses pengolahan Keran Air Siap Minum (KASM), dimana KASM merupakan upaya awal yang dilakukan PDAM Surya Sembada untuk menyediakan air yang siap minum sampai ke pelanggan.

Di lorong teknologi air masa depan ini, PDAM juga menampilkan rencana Zona Air Minum Prima (ZAMP) yang merupakan pembentukan wilayah yang akan menjadi percontohan air yang layak konsumsi hingga ke pelanggan. Terakhir pelanggan bisa menikmati KASM yang terletak di dekat pintu keluar lorong museum.

Secara keseluruhan, semua peralatan yang ada di dalam RAS dikumpulkan oleh tim dari PDAM Surya Sembada sejak dua tahun yang lalu. Banyak alat-alat peninggalan Belanda, juga berbagai diorama yang menggambarkan perkembangan teknologi pengolahan air minum dari masa ke masa, sehingga secara umum sudah siap untuk menjadi Museum Rumah Air Surabaya.

Menurut Manajer Sekretariat dan Humas PDAM Surya Sembada Ari Bimo Sakti, walaupun belum dibuka secara resmi, RAS bisa dikunjungi oleh masyarakat umum dengan cara menghubungi dan membuat janji dengan pihak PDAM. Ia juga menceritakan bahwa Kamis (19/1) RAS dikunjungi dari komunitas blusukan Surabaya untuk lomba dan hunting foto. Sebelumnya ada beberapa kunjungan dari mahasiswa UPH Surabaya dan juga Universitas Airlangga. Nantinya peserta wisata edukasi yang biasanya hanya di IPAM juga akan diperkenalkan dengan RAS.

Dikatakan Bimo, hal ini merupakan cara memperkenalkan RAS ke masyarakat untuk mendapatkan timbal balik lalu memperbaikinya, sebelum dibuka secara resmi. “Kami juga menggunakan media sosial untuk mempromosikan RAS. Kalau di Instagram bisa dicari dengan mengetik #rumahairsurabaya,” pungkasnya. (Rahmad / Staf Humas PDAM Surya Sembada Kota Surabaya)

Comments

Berita Lainnya: