Lokakarya Penyusunan Program Peningkatan Kinerja PDAM

Lokakarya Penyusunan Program Peningkatan Kinerja PDAM

Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) bekerja sama dengan Indonesia Urban Water and Hygiene (IUWASH) dan Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) menggelar Lokakarya Penyusunan Program Peningkatan Kinerja PDAM di Kota Ambon, Maluku, 30 November–4 Desember 2015. Acara yang dilangsungkan di Amaris Hotel Ambon ini merupakan kelanjutan dari Program Klinik yang sebelumnya telah dijalankan oleh PERPAMSI hingga mencapai tiga tahap.

Lokakarya yang diikuti 15 PDAM dari dua provinsi (empat PDAM dari Maluku, dan sebelas PDAM dari Maluku Utara) dibuka Wakil Ketua Umum PERPAMSI Muslih. Turut hadir dalam pembukaan Direktur Eksekutif PERPAMSI Subekti, Ketua PERPAMSI DPD Maluku Abdul Syukur Daud, serta wakil dari IUWASH Purwoko Hadi.

Kepada para peserta, Muslih menekankan pentingnya penguatan tekad dan kerja keras untuk mengubah kondisi PDAM dari sakit atau kurang sehat menjadi sehat. “Untuk mengubah PDAM sakit atau kurang sehat menjadi sehat, yang dibutuhkan tidak hanya niat. Kita juga butuh tekad dan kerja keras yang terus-menerus untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih baik lagi,” ujar Muslih saat membuka lokakarya.

Di lain pihak, Abdul Syukur Daud selaku tuan rumah menyambut baik program yang diinisiasi oleh tiga lembaga yang concern terhadap perkembangan air minum Indonesia. Selain mengucapkan terima kasih, Daud juga berharap agar program-program seperti ini bisa terus berlangsung dan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh PDAM peserta. “Kami berterima kasih, program yang sangat baik ini bisa menyentuh wilayah Maluku dan Maluku Utara. Semoga ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh semua peserta,” demikian Daud.

Senada dengan itu, Subekti juga berharap program ini bermanfaat bagi peningkatan kinerja PDAM, khususnya di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Dalam penjelasannya Subekti mengatakan, lokakarya ini merupakan salah satu program PERPAMSI bidang penyehatan PDAM yang merupakan lanjutan dari Program Klinik.

Hanya saja, ada sedikit perbedaan antara Program Klinik dengan lokakarya ini. Program Klinik lebih mengedepankan diskusi antara “dokter” atau tenaga ahli dengan PDAM yang kurang sehat atau sakit untuk mendiagnosis “penyakit yang diderita PDAM” dan kemudian merekomendasikan solusi yang diperlukan untuk mengatasinya. Artinya, tenaga ahli tidak terlibat terlalu jauh dalam hal proses selanjutnya.

Dalam lokakarya, keterlibatan tenaga ahli atau narasumber/dokter lebih dalam lagi. Tak hanya berdiskusi, narasumber atau tenaga ahli membimbing langsung PDAM menyusun program kerja dalam rangka peningkatan kinerja. Selanjutnya, draf program yang disusun didiskusikan kembali dengan direksi untuk kemudian dituangkan lagi oleh PDAM bersangkutan menjadi sebuah proposal yang akan diajukan kepada dewan pengawas ataupun pemda setempat selaku stakeholder. Para PDAM tersebut diberi waktu satu bulan untuk dapat menyusun proposal. Dalam hal ini, PERPMASI nantinya akan turut mendampingi PDAM saat melakukan pengajuan proposal ke stakeholder.

Purwoko Hadi berharap, lokakarya ini harus lebih baik dari Program Klinik yang telah dilakukan sebelumnya oleh PERPAMSI. “Yang jelas, PDAM harus punya keberanian untuk menghadapi owner dan selalu menjalin komunikasi yang baik dengan owner,” ujarnya.

PDAM peserta sangat antusias mengikuti lokakarya ini, mereka berharap lokakarya ini menjadi awal dari program-program lain yang memiliki semangat untuk memajukan PDAM. Selain itu, mereka juga berharap PERPAMSI dapat terus memperhatikan PDAM di wilayah Timur dengan program-program yang bermanfaat bagi peningkatan kinerja PDAM. (dvt)

Comments

Berita Lainnya: