Hampir Seluruh PDAM di Indonesia Terkena Dampak Elnino

Hampir Seluruh PDAM di Indonesia Terkena Dampak Elnino

Gelombang panas Elnino yang berlangsung sejak Juni lalu hingga sekarang, mulai dirasakan PDAM di seluruh Indonesia. Sebagian besar sumber air baku PDAM yang digunakan untuk air minum menyusut dan mulai kering. Akibatnya, pelayanan air minum kepada masyarakat mulai berjalan tidak normal.

Berdasarkan data PERPAMSI, di Pulau Sumatera, hampir semua Provinsi mengalami dampak Elnino meskipun hanya sebagian, seperti, Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu dan Kepulauan Bangka Belitung. Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh salah satu yang terparah yang mengakibatkan suplai tersendat dan sebagian mati total. Kabupaten Kampar Riau yang mengandalkan sungai terpaksa hanya mengoperasikan 3 dari 10 intake PDAM, karena air sungai yang terus mengering, turun 70%.

Selain itu, Dam Duriangkang yang menjadi salah satu sumber air baku PT Adhya Tirta Batam (ATB) mencatat rekor karena mengalami penyusutan hinga 1,8 meter, terburuk sejak dioperasikan awal tahun 2000. Corporate Communication Manager PT Adhya Tirta Batam, Enrico Moreno mengatakan, akibat kekeringan yang melanda Kota Batam tersebut, satu waduk sudah tidak bisa difungsikan lagi. ” WTP Nongsa saat ini sudah on off on off. Kalau sekiranya ada air kami buka tapi kalau sekiranya tidak memungkinkan kami off. Tapi untuk beberapa hari ini sudah mulai off. Sejak DAM itu tidak dioperasikan lagi, maka ATB menyambung aliran air dari DAM Duriangkang, meskipun debitnya juga turun,” ujar Enrico seperti dikutip media setempat.

Di Pulau Jawa, beberapa kota dan kabupaten juga mulai terdampak. PDAM  Kabupaten Tagerang  Banten menghentikan operasi 2 IKK akibat menurunya debit air Sungai Cisadane. Selain Tangerang, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Sukabumi juga mulai mengalami penurunan debit air meskipun belum mengganggu pelayanan. 

Di Jawa Tengah, Kabupaten Wonogiri adalah yang terparah karena PDAM tidak beroperasi. Beberapa PDAM juga mulai terganggu seperti, Kota Surakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Jepara, Kabupaten Rembang dan  Kabupaten Boyolali. Sementara Jawa Timur relatif aman, hanya satu dua kabupaten yang terganggu akibat turunnya debit air, seperti Kabupaten Pasuruan.

Di Pulau Kalimantan, hampir semua kabupaten kota mengalami penurunan debit air baku dari 5% hingga 70%. Kabupaten Tanah Bumbu Kalsel mengalami penurunan hingga 70%, Kabupaten Melawi Kalbar turun hingga 65%, Sanggau 55%, Kutai Barat 70%. Sementara PDAM besar seperti Banjarmasin dan Samarinda mengalami penurunan pelayanan hingga 30%.

Di Pulau Sulawesi, dampak terparah dialamai daerah utara seperti Sulawesi Utara dan Gorontalo. Kota Bitung salah satu yang terparah dengan penurunan debit  air baku hingga 55% dan pelayanan turun hingga 40%. Di Provinsi Gorontalo, bahkan sempat ada konflik dengan petani karena turunnya debit air hingga 60%. Daerah lain di Sulawesi yang terdampak seperti, Kabupaten Majene,  Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Sinjai.

Untuk Indonesia bagian timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi langganan kekeringan dan hampir dialami seluruh kabupaten dan kota dengan debit air baku turun hingga 50% dan mengganggu pelayanan. 

Sementara itu, untuk Pulau Bali dan Papua berdasarkan data yang dihimpun PERPAMSI sampai saat ini belum ada laporan mengganggu kinerja PDAM, semuanya masih berjalan normal. (Dvt)

Comments

Berita Lainnya: